favorite part, Perahu Kertas.
POSTED ON Rabu, 26 Desember 2012 AT 23.46 \\
![]() |
Keenan menahan napas. "Kecil..."
Siluet itu terduduk tegak seketika. Kugy Menoleh, mendapatkan Keenan sudah berdiri di hadapannya. "Kamu....kok...bisa ada disini?"
"Radar Neptunus." Jawab Keenan ringkas seraya tersenyum kilas. Ia lalu berjalan mendekati Kugy. Berjongkok di depannya. "Kenapa harus ngilang, Gy?" tanyanya halus.
"Aku juga gak tau kenapa," Kugy menggelengkan kepala, "tiap hari aku di sini, cuma untuk cari tahu kenapa. Dan masih belum tau jawabannya."
"Saya mau bantu kamu. Boleh?" Keenan lantas meraih tangan Kugy. "Empat tahun saya kepingin bilang ini: Kugy Karmachameleon, saya cinta sama kamu. Dari pertama kali kita ketemu, sampai hari ini, saya selalu mencintai kamu. Sampai kapan pun itu, saya nggak tahu. Saya nggak melihat cinta ini ada ujungnya.
Kugy terenyak. Pandangannya mulai mengabur. Matanya terasa panas oleh air mata yang ingin bergulir turun tapi masih ia tahan.
"Itu satu hal. Masih ada lagi yang harus saya bilang," Keenan mengatur napasnya. "saya sudah tahu soal Remi, Gy. Kalau saya harus merelakan kamu untuk seseorag cuma dialah orangnya. Nggak ada lagi. Dia orang yang sangat, sangat baik. Kamu beruntung."
"Kamu juga," desis Kugy, "aku nggak sengaja ketemu Luhde di Ubud. Kami sempet mengobrol di pura. Dia..dia seperti malaikat turun dari langit. Kamu beruntung, Nan. Jangan pernah melepaskan dia."
Keenan terkesiap mendengar Kugy menyebut nama Luhdeh. Namun, pembicaraan Remi di kantornya kembali terulang...waktu saya ke Bali menemui Pak Wayan kemarin, dia ikut dengan saya ke Ubud, tapi sayangnya nggak ikut mampir ke galeri gara-gara dia mau memotret di pura. Kali ini, Keenan akhirnya mengerti. Sikap Luhde yang berbah drastis setelah pulang dari pura. Sikap Kugy yang juga berubah setelah kembali dari Bali. Akhirnya ia memahami.
"Luhde nggak layak disakiti," desis Kugy lagi
"Remi juga," timpal Keenan lirih.'
Kugy menunduk, mengerjapkan mata. Ia hampir tidak bisa melihat apa-apa lagi dari matanya yang kian mengabur. Hari semakin gelap. Angin semakin halus. Hatinya semakin perih.
"Banyak sekali yang ingin saya lakukan bareng kamu, Gy," bisik Keenan.
Kugy mendongak. Tersenyum sebisanya. "Bisa. Pasti bisa/ Kita tetep bisa bikin buku bareeng, kan? Dan aku tetap bisa jadi sahabtmu." Kugy nyaris tersedak mengucapkan kata terakhir barusan. Menyadari bahwa persahabatan barangkali muara terakhir yang harus ia paksakan untuk menampung seluruh perasaannya pada Keenan. Tak bisa lebih dari itu. Begitu luas laut yang membentang dalam hatinya. Namun, lagi-lagi, harus ia tahan.
"Iya, kita tetep bisa bikin karya bersama. Dan kita selalu menjadi sahabat terbaik," Keenan menelan ludah. Kalimat itu begitu susah di ucapkan. Apalagi ketika segenap hatinya berontak, menolak. Namun, ia teringat janjinya, pada Luhdeh, pada Remi. Jika ini memang bantuan yang Remi butuhkan, sama seperti ketika Remi menolongnya dulu, maka ia akan menggenapkannya.
"Nan...," Kugy menggenggam balik atngan Keenan, suaranya makin lirih, "banyak yang aku ingin bilang ke kamu. Banyak yang ingin aku kasih. Tapi, nggak apa-apa, nggak usah. Mungkin memang bukan jatahku. Bukan jatah kita. Kamu turun, ya, Nan. Pulang."
Keenan mengangguk. Memang tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Hanya akan membuat hatinya makin terluka.
"Kamu juga jangan kelamaan di sini, Gy. Udah malam." Keenan menyentuh pipi Kugy sekilas. Perlahan, berjalan pergi.
Air mata Kugy akhirnya jatuh bergulir, membuat pandangannya kembali terang, emski langit sudah gelap, dan Keenan tinggal bayangan hitam yang berjalan menjauh.
"Nan...." panggilnya.
"Ya?" Keenan berbalik
"Aku nggak kepenginin, sepuluh...dua puluh tahun lagi dari sekarang, aku masih merasa sakit di sini tiap kali inget kamu." Kugy merapatkan tangannya di dada.
Keenan tercekat mendengarnya. "Nggak, Gy. Nggak akan. Kalau saya bisa, kamu juga bisa."
"Dan kamu yakin bisa?" tangis Kugy
"Pasti..." Suara Keenan bergetar. Penuh keraguan, kebimbangan, dan kegentaran. Namun, ia tak mungkin lagi mundur. Satu-satu, dituruninya tangga besi itu. Lenyap dari pandangan Kugy. Harus ada yang bisa, batinnya, kalau tidak...Keenan menggosok matanya yang berkaca-kaca. Ia tak bisa mengingat, kapan hatinya pernah sepilu ini.
Di tempat yang sama, Kugy menangis bisu. Ia berjanji, inilah tangisan terakhirnya untuk Keenan, sekaligus tangisan yang paling menyakitkan. Ia bahagia sekaligus patah hati pada saat yang beramaan. Saat ia tahu dan diyakinkan bahwa mereka saling mencintai, dan selamanya pula mereka tidak mungkin bersama.
JENGJENGJENGJENG
Finally! Favorite part di Perahu Kertas. Itu diambil dari novel tapi kalo yang di film kurang lebih juga kayak gitu scene-nya hehe. Paling best lah ya soalnya galaunya ngena banget HEHEHEHE. Kugy termasuk lucky girl bisa ketemu Keenan yang pada akhirnya mimpi mereka berdua sama sama terwujud. Abis nonton Perahu Kertas itu bawaannya gak tau pengen ngapain galau duluan soalnya kalo inget karakter Keenan HAHAHAHA.
Jadi tambah gak sabar nunggu 1 Januari 2013.
Oke, salam neptunus~ b(-_-)d

A taurus who born in 1998